Si Kecil Nempel Terus Sama Mama

Memang cukup menyebalkan ketika si kecil nempel terus dan tidak mau bermain dengan temannya. Akan tetapi jangan pernah memarahi si kecil. Karena disaat itulah si kecil membutuhkan bantuan untuk belajar dan mengembangkan keterampilan untuk bersosialisasi. “Aduh, Ita jangan nempel Mama terus dong. Ayo, main sama temantemanmu,” ucap Mira dengan gemas kepada anak perempuannya yang berusia 2 tahun 8 bulan itu saat mereka berada di taman kompleks.

Bagaimana Mira tidak gemas? Sementara anak-anak lain seusia Ita asyik bermain bersama, putri kecilnya itu malah menempel dengan Sang Mama. Padahal, anak-anak lain itu adalah temantemannya yang sudah sering di temui di “sekolah” alias bukan anak-anak baru/asing. Yang membuat Mira tambah gemas, kebiasaan Ita menempel pada dirinya alias tak mau berpisah dari Sang Mama ini, sudah kerap terjadi. Hampir pada setiap kesempatan berkumpul atau bermain dengan banyak orang, Ita lebih memilih menempel pada mamanya ketimbang berbaur dengan orang banyak.

Hmm… apakah batita Mama juga seperti Ita? Sesungguhnya, perilaku menempel pada orangtua— umumnya pada Mama—sangat berkaitan dengan kemampuan dan keberanian anak untuk bersosialisasi dan bermain bersama teman sebayanya. Nah, apakah hal ini berarti si kecil tidak mampu atau tidak berani bersosialisasi? Sebelum menjawab pertanyaan ini, baiklah kita simak dahulu penjelasan berikut dari ahlinya.

DARI RASA AMAN

Setiap anak akan melewati beberapa tahapan perkembangan yang jika tidak terpenuhi akan mengakibatkan konsekuensikonsekuensi tertentu di tahapan perkembangan berikutnya. Pada dasarnya, seluruh aspek perkembangan manusia akan melewati tahapantahapan tertentu yang saling berkaitan satu dengan lainnya.

Nah, perilaku menempel pada orangtua merupakan dampak dari tidak terpenuhinya tahapan perkembangan sebelumnya. Seperti dikatakan oleh salah satu tokoh psikososial, Erik Erikson, sejak lahir sampai dengan kurang lebih usia 1 tahun, anak berada pada tahap trust vs miss-trust. Pada fase ini, anak mengawali interaksi dengan “dunia luar” melalui mulut dan pancaindra yang dimiliki. Bayi yang baru lahir hanya bisa mengomunikasikan keinginannya melalui tangisan.

Contoh, saat bayi menangis, Mama akan responsif untuk memenuhi kebutuhannya, seperti: mengganti popoknya bila pup/pipis, menyusui saat bayi menangis karena lapar/haus, memeluk bayi saat proses pemberian ASI, mengelus tubuh bayi saat ia merasa tidak nyaman, dan lain-lain.

Untuk anak yang ingin mahir dalam berbahasa asing dapat mengikuti pelatihan di lembaga les bahasa Perancis di Jakarta yang terbaik. Sehingga dapat menjadi bekal di masa depannya kelak.