Si Kecil Nempel Terus Sama Mama Bagian 2

Semua yang dilakukan oleh Mama ini akan membuat si kecil merasa bahwa Mama (lingkungan di luar dirinya) memenuhi kebutuhannya. Dari sini muncullah kepercayaan bahwa Mama tidak akan dengan sengaja menyakiti dirinya. Nah, terpenuhinya kebutuhan ­ sik dan psikologis bayi seperti contoh-contoh di atas akan menjadi dasar pembentukan rasa aman dalam diri anak kelak. Selain itu, rasa aman dapat semakin berkembang ketika anak merasa nyaman saat berinteraksi dengan lingkungannya. Ketika masih bayi, meski belum mampu membedakan antara orang yang “dikenal” dan “tidak dikenal”, namun melalui pancaindranya (hidung dan sentuhan), bayi belajar membedakan antara Mama dengan orang lain. Ketika bayi berada di antara orang yang “dikenal,” tentunya ia akan merasa nyaman.

RASA AMAN YANG TERUSIK

Rasa aman dapat terusik ketika orang terdekatnya mengalami hal yang tidak mengenakkan. Adanya pengalaman “dipisahkan” dari mamanya yang mengalami baby blues, misalnya. Perasaan sang Mama yang merasa tidak nyaman dapat membuat anak juga merasakan hal yang sama. Pada kasus seperti ini memang diperlukan stimulasi yang lebih intens agar rasa aman pada anak bisa berkembang. Kekhawatiran orangtua dapat juga menjadi pengusik lain rasa aman anak.

Saat si kecil melakukan eksplorasi, tanpa disadari, kita kerap mengatakan, “Awas nanti jatuh!”; “Pelan-pelan ya…”; “Awas, hati-hati!”; “Jangan merangkak, ah… kotor!”; dan ekspresi lainnya. Kekhawatiran itu membuat anak menjadi kurang memiliki banyak pengalaman untuk mengeksplorasi dan bergerak sesuai dengan keinginannya. Padahal, gerakan-gerakan yang dilakukan pada tahap itu akan membantunya untuk lebih siap dalam menghadapi tuntutan perkembangan yang lebih sulit dan kompleks di usia selanjutnya.

Contoh, di usia 2-3 tahun, permainan anak umumnya adalah panjat-panjatan, seluncuran, naik turun tangga, melompat-lompat di atas trampolin, kejar-kejaran, dan lain-lain. Nah, ketidaksiapan tubuh anak untuk melakukan berbagai aktivitas tersebut, membuatnya menjadi tidak percaya diri. Ia pun lebih memilih duduk diam dan tidak bersosialisasi dengan teman sebaya.