Mengapa Ayam Modern Cepat Bongsor?

Mengapa Ayam Modern Cepat Bongsor? Ayam modern yang kita konsumsi sa at ini bukanlah hasil rekayasa ge – netik, melainkan dari seleksi gene – tik secara persilangan (cross breed). Tony Unandar, konsultan peternakan unggas, mengatakan, baik boriler maupun layer yang telah mengalami perbaikan genetik memiliki beberapa keunggulan. Di anta – ra nya, daya hidup (livability) tinggi, per – tam bahan bobot harian (average daily gain – ADG) tinggi, dan sangat efisien da – lam menggunakan pakan dengan kata lain rasio pakan (feed conversion ratio – FCR) sangat rendah. “Setidaknya perbaikan genetik ayam me lalui tiga tahapan, yakni seleksi secara natural berdasarkan tampilan luar (feno – tip), perkawinan silang (cross breed), dan seleksi genetik,” ujar Tony belum lama ini.

Kemampuan Metabolisme

Ayam yang mengandung bibit unggul sudah terlebih dulu mengalami seleksi se – ca ra alami. Tony menjabarkan, pada 1990- an sampai 2000 para ahli genetik mulai menyilangkan bibit-bibit unggul secara intensif. Namun persilangan antarbibit ung gul tadi ternyata memunculkan bebe – rapa gen resesif ke permukaan. Seperti ada nya masalah ascites (pengumpulan cair an di rongga perut), gangguan alat ge – rak (leg problem), dan runting stunting syndrom (kekerdilan). Beberapa tahun kemudian, ahli tekno – lo gi pakan menemukan jalan keluar un – tuk ascites dan leg problem, tetapi keker – dilan belum bisa teratasi.

Setelah para ahli biologi molekuler menemukan teknologi pe metaan dan urutan gen (mapping & sequencing), gen bibit unggul yang ada pada ayam mulai dipelajari. Aplikasi teknologi tersebut menandai dimulainya perbaikan genetik ayam de – ngan melibatkan tingkat seleksi gen. Tony kembali menekankan, ayam modern bu – kan hasil rekayasa genetik (transgenik), te tapi dari seleksi gen bibit unggul dan dicocokkan dengan tampilan luar. Itulah yang disebut genomic selection (seleksi genom). Pada akhir 2000, para ahli menemukan satu gen penting yang kelak menentukan kemajuan industri unggas secara luas, ba – ik pada broiler maupun layer. Gen tersebut bertanggung jawab pada kemampu – an metabolisme (metabolic competence) sebagai penentu kecepatan metabolik di tingkat sel. “Penemuan spektakuler ini meng ubah wajah performa ayam mo – dern.

Pertumbuhannya jadi sangat cepat, efisien dalam pakan, dan daya hidupnya tinggi pada broiler. Demikian pula pada layer yang berlangsung sepuluh tahun kemudian,” jelas Tony. Sejak masa embrio, ayam sudah mem – bawa karakter metabolic competence yang tinggi. Metabolisme, lanjut dokter hewan lulusan IPB itu, merupakan perubahan wu jud unsur-unsur gizi dari asam amino, asam lemak, dan karbohidrat tunggal (mo nosakarida) menjadi adenosine trifosfat (ATP) yang digunakan ayam untuk tumbuh dan berkembang. Termasuk di da lamnya menjaga imunitas ayam dan berproduksi. “Kita bisa lihat perbaikan performa broiler itu luar biasa. Otot dada bagian luar posisinya jauh lebih besar sesuai keinginan, misal untuk membuat steik dari dada ayam. Ini adalah seleksi genetik pada ayam modern yang menghasilkan ayam memiliki kemampuan metabolisme sangat baik,” papar pakar perunggasan ini.

Pakan yang Menunjang

Terdapat dua model pertumbuhan pada ayam modern. Pertama, hiperplasia, yaitu bobot ayam meningkat karena bertam – bah nya sel-sel tubuh. Kedua, hipertrofi, pertumbuhan yang disebabkan oleh mem besarnya ukuran sel. Pada broiler, per tumbuhan hiperplasia terutama ter – jadi pada minggu pertama sampai kedua. Sedangkan pada ayam petelur, sambung Tony, pertumbuhan hiperplasia maksi – mum terjadi pada minggu keempat sampai keenam. Salah satu poin penting pada masa ter – se but adalah pertumbuhan villi usus dari minggu pertama hingga ketujuh. Sema – kin banyak jumlah villi yang terbentuk, semakin luas bidang penyerapan dan me – nentukan efisiensi pakan. Dengan adanya perbaikan genetik, ahli teknologi pakan harus mengubah pakan yang disediakan. Artinya pakan harus mengandung tiga karakter. Pertama, daya cernanya tinggi.

Kedua, kepadatan nutrisi yang tinggi. Ketiga, keseimbangan nutrisi yang tinggi. Pakan dengan daya cerna tinggi akan lebih banyak menyuplai unsur gizi ke tingkat sel dan seimbang. Perbaikan genetik menuntut perbaikan pakan. Pakan yang unsur gizinya disesuai – kan dengan genetik ayam modern dikenal dengan istilah nutrigenomic feed. Namun, sebaik apapun pakan dan su ple – mentasi yang diberikan, kalau ayam dari hari ke hari terserang mikroba pato gen, pencernaannya akan terganggu. “Sa lah satu hal yang penting dalam kandang ada – lah sanitasi dan air minum yang ber sih. Mes kipun pakan bagus, kalau kualitas air mi num kurang mendukung, maka per for – manya tidak bagus,” tandas dewan pa kar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) ini.

Peran Penting Saluran Cerna

Sebelum menuju ke tingkat metabolis – me, ayam lebih dahulu melakukan proses pencernaan di dalam usus. Bahan baku pakan yang mengandung rantai panjang seperti protein, lemak, dan karbohidrat di pe cah atau dicerna di dalam usus men – jadi unsur-unsur gizi sampai membentuk produk akhir, baik daging maupun telur. “Inilah yang menjadikan peranan usus begitu penting terhadap performa ayam,” imbuh jelas Tony.

Pertumbuhan anatomi sistem pencer na – an yang maksimal akan membuat peng – gunaan pakan jauh lebih efisien. De ngan pertumbuhan yang maksimal, praktis ki – nerja sistem di dalam tubuh ayam mak si – mal sehingga hasilnya pun akan maksimal. Senada dengan Tony, di kesempatan yang berbeda, Michael Haryadi Wibowo, Ahli Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta mengatakan, saluran cerna (gastrointestinal tract – GIT) merupakan tempat utama proses peme – cahan dan penyerapan nutrisi.

Saluran pencernaan berperan sebagai sistem pertahanan terluas dalam tubuh. Berkurangnya nutrisi yang terabsorbsi mengakibatkan nutrisi di lumen GIT da pat memicu pertumbuhan patogen yang ber – dampak memperberat infeksi. Pada saluran pencernaan, terang Michael, ter dapat 640 spesies mikroorganisme yang perlu diseim – bangkan populasinya untuk menciptakan kondisi lingkungan GIT yang optimal. Ber – kem bangnya bakteri patogen membuat pro duktivitas ayam terganggu. “Keseim – bang an yang baik 85% (mikroorganisme baik) vs 15% (pathogen),” sarannya