Si Kecil Nempel Terus Sama Mama Bagian 4

Anak membutuhkan penjelasan secara logis dari orangtuanya, mengenai alasan kenapa orangtuanya marah dan/ atau langsung meninggalkannya. Untuk itu, penting bagi orangtua memberikan penjelasan yang dapat dimengerti oleh anak. Namun, alangkah baiknya bila Mama tidak marah ataupun mendiamkan, apalagi sampai meninggalkan si buah hati. Bagaimanapun, bukan salah si batita bila ia masih menempel pada mamanya. Justru dalam kondisi seperti itu, si batita sangat membutuhkan Mama untuk membantunya mengatasi rasa tidak amannya sehingga ia dapat bersosialisasi dengan nyaman.

Tips menumbuhkan keberanian

Untuk menumbuhkan keberanian pada batita agar tidak menempel terus pada mamanya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan: • Beri kesempatan pada anak untuk melakukan berbagai kegiatan yang disukai secara mandiri. Akan tetapi, saat anak masih belum terampil melakukannya, jangan dimarahi, melainkan beri kesempatan padanya untuk melakukannya kembali.

  • Jangan terlalu banyak melarang saat ia melakukan eksplorasi. Contoh, saat ia memanjat pohon atau naik-turun tangga, tak usah mengekspresikan kekhawatiran secara jelas melalui katakata ataupun ekspresi wajah, namun berdirilah di tempat yang “aman”, yaitu lokasi dimana ketika ia akan “jatuh”, Mama bisa spontan menangkapnya agar tidak terbentur. • Jangan terlalu banyak nasihat. Contoh, saat anak akan bermain, Mama mengatakan, “Jangan nakal ya”, “Harus baik ya,” dan lain-lain. Anak bingung dengan batasan “nakal” atau “baik” yang disampaikan orangtua.

Pada akhirnya, anak hanya akan berdiam diri karena takut salah dan tidak bisa memenuhi harapan/nasihat orangtua. • Sampaikan bahwa ketika orangtua tidak bersama anak saat ia bermain dengan sebaya, kita tetap sayang padanya. Anak biasanya akan merasa khawatir dan cemas ketika ditinggal oleh mamanya karena ia merasa “dibuang” dan Mama tidak sayang lagi kepadanya.

Si Kecil Nempel Terus Sama Mama Bagian 3

PENGALAMAN BERINTERAKSI

Rasa aman dan percaya pada lingkungan saja tidaklah cukup untuk menumbuhkan keberanian bersosialisasi. Si kecil pun perlu pengalaman berinteraksi dengan sebaya lain. Ia perlu diajak berkunjung ke rumah kerabat yang memiliki anak sebaya atau dimasukkan PAUD atau playgroup agar belajar berinteraksi dengan teman yang usianya sama.

Selain itu, kurang banyak diberi kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas secara mandiri, juga dapat menjadi salah satu penyebab munculnya perilaku menempel si batita pada mamanya. Di rentang usia batita memang ada beberapa aktivitas yang semestinya sudah bisa dilakukan sendiri, seperti: makan dan minum sendiri. Meski belum terampil dan hasilnya masih terkesan acakacakan, si kecil tetap perlu diberi kesempatan agar lambat laun keterampilannya terasah.

DUKUNG ANAK

Selain faktor dalam diri anak, kita perlu pula memahami apakah ada faktor lain yang membuat anak masih menempel. Misal, lngkungan baru dengan teman-teman yang belum pernah ditemui sebelumnya. Jika memang itu masalahnya, sebaiknya orangtua tetap berada di tempat tersebut untuk mendampingi. Katakan pada anak, ia boleh bermain dengan temannya dan minta anak untuk berkenalan dengan teman baru tersebut.

Anak biasanya akan diam karena ia bingung mengenai “langkah awal” yang harus dilakukan. Setelah itu, biarkan anak mengeksplorasi sendiri hal-hal yang akan dilakukan bersama temannya. Dibutuhkan kesabaran orangtua karena anak memang membutuhkan waktu untuk mengenali lingkungan baru. Suatu hal yang wajar jika batita masih belum spontan. Yang perlu Mama lakukan adalah mendorong si batita untuk berkumpul bersama temannya sehingga sedikit demi sedikit ia bisa “lepas” dari mamanya.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah reaksi orangtua saat menghadapi anak yang tidak mau lepas ini. Apakah orangtua marah karena malu bahwa anaknya tidak bisa bersosialisasi dengan cepat seperti anak lainnya? Ataukah orangtua hanya mendiamkan dan langsung meninggalkan anaknya? Kedua perilaku ini dapat membuat anak semakin merasa tidak aman. Akibatnya, anak akan merasa bahwa orangtua tidak sayang padanya sehingga ia pun menjadi semakin rewel dan menempel.

Simak juga informasi lengkap mengenai tempat terbaik les kursus IELTS di Jakarta yang terpercaya, agar lebih siap dan percaya diri ketika mengerjakan semua soal tes IELTS.

Si Kecil Nempel Terus Sama Mama Bagian 2

Semua yang dilakukan oleh Mama ini akan membuat si kecil merasa bahwa Mama (lingkungan di luar dirinya) memenuhi kebutuhannya. Dari sini muncullah kepercayaan bahwa Mama tidak akan dengan sengaja menyakiti dirinya. Nah, terpenuhinya kebutuhan ­ sik dan psikologis bayi seperti contoh-contoh di atas akan menjadi dasar pembentukan rasa aman dalam diri anak kelak. Selain itu, rasa aman dapat semakin berkembang ketika anak merasa nyaman saat berinteraksi dengan lingkungannya. Ketika masih bayi, meski belum mampu membedakan antara orang yang “dikenal” dan “tidak dikenal”, namun melalui pancaindranya (hidung dan sentuhan), bayi belajar membedakan antara Mama dengan orang lain. Ketika bayi berada di antara orang yang “dikenal,” tentunya ia akan merasa nyaman.

RASA AMAN YANG TERUSIK

Rasa aman dapat terusik ketika orang terdekatnya mengalami hal yang tidak mengenakkan. Adanya pengalaman “dipisahkan” dari mamanya yang mengalami baby blues, misalnya. Perasaan sang Mama yang merasa tidak nyaman dapat membuat anak juga merasakan hal yang sama. Pada kasus seperti ini memang diperlukan stimulasi yang lebih intens agar rasa aman pada anak bisa berkembang. Kekhawatiran orangtua dapat juga menjadi pengusik lain rasa aman anak.

Saat si kecil melakukan eksplorasi, tanpa disadari, kita kerap mengatakan, “Awas nanti jatuh!”; “Pelan-pelan ya…”; “Awas, hati-hati!”; “Jangan merangkak, ah… kotor!”; dan ekspresi lainnya. Kekhawatiran itu membuat anak menjadi kurang memiliki banyak pengalaman untuk mengeksplorasi dan bergerak sesuai dengan keinginannya. Padahal, gerakan-gerakan yang dilakukan pada tahap itu akan membantunya untuk lebih siap dalam menghadapi tuntutan perkembangan yang lebih sulit dan kompleks di usia selanjutnya.

Contoh, di usia 2-3 tahun, permainan anak umumnya adalah panjat-panjatan, seluncuran, naik turun tangga, melompat-lompat di atas trampolin, kejar-kejaran, dan lain-lain. Nah, ketidaksiapan tubuh anak untuk melakukan berbagai aktivitas tersebut, membuatnya menjadi tidak percaya diri. Ia pun lebih memilih duduk diam dan tidak bersosialisasi dengan teman sebaya.

Si Kecil Nempel Terus Sama Mama

Memang cukup menyebalkan ketika si kecil nempel terus dan tidak mau bermain dengan temannya. Akan tetapi jangan pernah memarahi si kecil. Karena disaat itulah si kecil membutuhkan bantuan untuk belajar dan mengembangkan keterampilan untuk bersosialisasi. “Aduh, Ita jangan nempel Mama terus dong. Ayo, main sama temantemanmu,” ucap Mira dengan gemas kepada anak perempuannya yang berusia 2 tahun 8 bulan itu saat mereka berada di taman kompleks.

Bagaimana Mira tidak gemas? Sementara anak-anak lain seusia Ita asyik bermain bersama, putri kecilnya itu malah menempel dengan Sang Mama. Padahal, anak-anak lain itu adalah temantemannya yang sudah sering di temui di “sekolah” alias bukan anak-anak baru/asing. Yang membuat Mira tambah gemas, kebiasaan Ita menempel pada dirinya alias tak mau berpisah dari Sang Mama ini, sudah kerap terjadi. Hampir pada setiap kesempatan berkumpul atau bermain dengan banyak orang, Ita lebih memilih menempel pada mamanya ketimbang berbaur dengan orang banyak.

Hmm… apakah batita Mama juga seperti Ita? Sesungguhnya, perilaku menempel pada orangtua— umumnya pada Mama—sangat berkaitan dengan kemampuan dan keberanian anak untuk bersosialisasi dan bermain bersama teman sebayanya. Nah, apakah hal ini berarti si kecil tidak mampu atau tidak berani bersosialisasi? Sebelum menjawab pertanyaan ini, baiklah kita simak dahulu penjelasan berikut dari ahlinya.

DARI RASA AMAN

Setiap anak akan melewati beberapa tahapan perkembangan yang jika tidak terpenuhi akan mengakibatkan konsekuensikonsekuensi tertentu di tahapan perkembangan berikutnya. Pada dasarnya, seluruh aspek perkembangan manusia akan melewati tahapantahapan tertentu yang saling berkaitan satu dengan lainnya.

Nah, perilaku menempel pada orangtua merupakan dampak dari tidak terpenuhinya tahapan perkembangan sebelumnya. Seperti dikatakan oleh salah satu tokoh psikososial, Erik Erikson, sejak lahir sampai dengan kurang lebih usia 1 tahun, anak berada pada tahap trust vs miss-trust. Pada fase ini, anak mengawali interaksi dengan “dunia luar” melalui mulut dan pancaindra yang dimiliki. Bayi yang baru lahir hanya bisa mengomunikasikan keinginannya melalui tangisan.

Contoh, saat bayi menangis, Mama akan responsif untuk memenuhi kebutuhannya, seperti: mengganti popoknya bila pup/pipis, menyusui saat bayi menangis karena lapar/haus, memeluk bayi saat proses pemberian ASI, mengelus tubuh bayi saat ia merasa tidak nyaman, dan lain-lain.

Untuk anak yang ingin mahir dalam berbahasa asing dapat mengikuti pelatihan di lembaga les bahasa Perancis di Jakarta yang terbaik. Sehingga dapat menjadi bekal di masa depannya kelak.

Jenis Karakter yang Harus Dikembangkan

Kejujuran

Mengandung dua hal, yaitu jujur pada diri sendiri dan jujur pada orang lain. a. Jujur pada diri sendiri. Ini adalah fondasi yang kuat untuk mengembangkan karakter positif lainnya. Dengan bersikap jujur pada diri sendiri, seseorang akan lebih merasa nyaman, tidak sibuk membuat alasan pembenaran yang dapat merugikan dirinya sendiri namun justru dapat menyusun strategi untuk memperbaiki diri. Karakter ini dapat dikembangkan seperti saat anak terjatuh waktu belajar berjalan, orangtua yang bijak tidak menghibur anak dengan menyalahkan jalan atau malah menyalahkan katak yang bahkan tidak ada di situ.

Pada situasi ini, seharusnya orangtua mengajak anak untuk lebih berhati-hati, memerhatikan jalan yang dilalui seraya memuji kemauan anak untuk terus belajar berjalan dan menegaskan bahwa jatuh atau gagal dalam proses belajar adalah wajar, setiap orang pernah mengalaminya. Sama halnya manakala anak mendapat nilai jelek dalam ujian, bukan guru yang disalahkan, namun anak diminta melakukan introspeksi diri dan dibantu untuk menyusun strategi mempersiapkan ujian di kemudian hari. b. Jujur pada orang lain.

Dengan bersikap jujur pada orang lain akan melatih anak bertanggung jawab terhadap kesalahan yang diperbuatnya. Bersikap jujur pada orang lain memberikan manfaat positif, baik pada orang lain maupun dirinya sendiri. Melatih kejujuran pada anak dapat dilakukan melalui komunik asi sehari-hari, bahkan sejak anak mulai belajar bicara. Contoh, Mama Papa menanyakan aktivitas harian anak dimana aktivitas tersebut dapat dicek kebenarannya, seperti: sudah gosok gigi atau belum atau apa jenis sayuran yang dimakan hari ini.

Apabila jawaban anak belum sesuai dengan fakta, mohon Mama Papa tidak melontarkan kata-kata yang menyudutkan bahwa anak berbohong. Melainkan, ajaklah anak untuk mengoreksi jawabannya sambil menjelaskan manfaat atau keuntungan bagi anak bila telah melakukan hal baik, seperti: menggosok gigi dan makan sayuran.

Sikap jujur sangat penting dalam dunia kerja karena itu akan membuat kepercayaan dari atasan , kolega kerja sampai hubungan kerjasama dengan perusahaan lainnya. Selain itu juga keahlian bahasa asing juga sangat penting. Agar anak ahli dalam berbahasa asing khususnya bahasa Jerman berikut ini rekomendasi kursus bahasa Jerman di Tangerang terbaik.

Kebiasaan Mama Disaat Hamil

• Ivana Elisabeth Hutagalung: “Keluhan di saat hamil yaitu orang-orang di sekitar overprotektif. Saya itu hamil bukan sakit.”

Pendapat Ahlinya : “Sebuah kehamilan bukan sebagai penyakit, karena itulah wanita hamil diperbolehkan melakukan berbagai aktivitas seperti biasa. Asal tetap menjaga kondisi tubuh jangan sampai kelelahan.”

MERASA CEPAT LELAH • Sari Riri: “Dulu pas hamil muda enggak berasa keluhan apa-apa. Begitu masuk trimester akhir, rasanya tambah banyak keluhan. Enggak kuat berdiri lama-lama, kaki rasanya mau copot kalau dipakai berdiri atau jalan lamalama. Udah mulai enggak enak tidur, dikit-dikit pengin pipis, kadang-kadang suka sesak dada apalagi pas debay (dedek bayi) gerak.”

KOMENTAR PAKAR: “Rasa cepat lelah disebabkan oleh beban pada perut akibat uterus yang makin besar serta diafragma yang makin tertekan ke atas, sehingga bumil akan berusaha untuk menarik napas (lebih) dalam. Kaki terasa sakit dan sering pipis karena tekanan darah ke panggul oleh rahim yang membesar.”

SERING BUANG AIR KECIL • Ria Puspasari: “Pada trimester satu, keluhannya mual, muntah, tidak tahan bau bawang putih dan parfum. Diatasi dengan makan sedikit-sedikit. Kalau muntah harus makan lagi. Hindari bau-bau yang menyengat. Di trimester dua, keluar jerawat di wajah, punggung, dada, perut, tangan kesemutan. Cara mengatasi dengan bersihkan tubuh dan jangan diberi obat jerawat, serta olahraga ringan. Trimester ketiga, badan terasa berat, susah memilih posisi tidur, sering buang air kecil. Cara mengatasinya, tidur miring ke kiri diganjal dengan bantal.”

KOMENTAR PAKAR: “Betul, pada trimester awal, mual muntah diatasi dengan makan sedikit tapi sering. Trimester 2 jika timbul jerawat, itu karena pengaruh hormonal. Dianjurkan untuk menjaga kebersihan kulit. Pada trimester 3 sering susah tidur, sering BAK karena uterus membesar. Jika berbaring miring ke kiri sehingga aliran darah ke janin tetap baik, karena pembuluh darah besar tidak tertekan oleh uterus.”

Untuk Anda yang akan mengikut tes TOEFL tentunya membutuhkan persiapan yang matang. Tempat kursus TOEFL IBT adalah pilihan yang tepat. Sehingga Anda akan lebih percaya diri dan dapat melewati semua tes dengan lancar.